Thursday, 15 December 2016

PENYELARASAN MATERI DAN MODEL RPP BAHASA ARAB UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PENYELARASAN MATERI DAN MODEL RPP BAHASA ARAB UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
Abstract: School-based Curriculum known in Indonesia as Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), including that for the teaching of Arabic at Primary and Secondary Schools needs straightening up to avoid the inherent overlaps. In order to minimize the overlaps, this essay proposes the utilization of the three-staged model proposed by Krashen and Terell (1983) for the writing of list of topics and situations in the teaching of Arabic. This article is also intended to assist Arabic teachers devise Lesson Plan (known in the Indonesian context as RPP) for the teaching of Arabic in both Primary and Secondary levels of education
Key words: School-based Curriculum (KTSP), Lesson Plan (RPP), Arabic teaching
Bahasa Arab termasuk mata pelajaran yang banyak diajarkan di sekolah. Di lingkungan Departemen Agama, bahasa Arab wajib di-ajarkan di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, bahasa Arab disajikan sebagai bahasa asing pilihan untuk SLTA. Bahkan di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan organisasi keagamaan tertentu, bahasa Arab wajib diajarkan di tingkat SD, SLTP dan SLTA.
Melihat betapa pentingnya bahasa Arab dalam dunia pendidikan di Indonesia, bahasa ini perlu mendapat perhatian untuk dikaji dan dikembangkan pengajarannya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pengajaran bahasa Arab di Indonesia menghadapi banyak kendala yang perlu dicarikan jalan keluamya baik di MI (Khasairi dkk. 2002), MTs (Khasairi dan Kholisin 2003), maupun di MA (Maslichah dkk. 2002).
Sebagai penyempurnaan kurikulum 2004 (KBK), KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. Departemen Pendidikan Nasional mengharapkan paling lambat tahun 2009/2010 semua sekolah telah melaksanakan KTSP. Dalam kaitan ini, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah membuat panduan penyusunan KTSP sebagi acuan bagi satuan pendidikan       SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB, MA-/MA/SMALB, dan SMK/MAK (Muslich 2007a: 10). KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip (1) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) beragam dan terpadu; (3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; (4) relevan dengan kebutuhan kehidupan, menyeluruh dan berkesinambungan; (5) belajar sepanjang hayat; dan (6) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Komponen KTSP ada empat, yaitu (1) tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, (2) struktur dan muatan KTSP; (3) kalender pendidikan, dan (4) silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) (Muslich 2007a: 11-12).
Artikel ini akan mengkaji Kurikulum Bidang Studi Bahasa Arab dari segi keselarasan materi pada setiap tingkat satuan pendidikan, MI, MTs, maupun di MA serta mengusulkan format penulisan RPP.
ANALISIS KURIKULUM
Apabila dikaji, Kurikulum 2004 berisi Standar Kompetensi MI, MTs, dan MA untuk pelajaran bahasa Arab, Standar Kompetensi Bahan Kajian terdiri atas empat keterampilan: menyimak, berbicara, mem-baca dan menulis. Dalam ruang lingkup disebutkan bahwa untuk MI kosakata yang perlu dikuasai secara kumulatif berjumlah 300 kosakata dan ungkapan/idiom yang komunikatif dan tinggi frekuensi pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan madrasah maupun di rumah (Depag 2004a: 142-143).
Pada jenjang Tsanawiyah, kosakata yang perlu dikuasai secara kumulatif berjumlah sekitar 700 kata dan ung-kapan/idiom, dengan rincian 100 kata pada masing-masing semester pada kelas VII, 250 kosakata pada masing-masing kelas VIII dan IX. 700 kosa kata bersifat komunikatif dan tinggi frekuensi pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik yang berkenaan dengan lingkungan madrasah dan rumah serta yang berhubungan dengan aqidah, ibadah, dan akhlaq (Depag 2004b: 125).
Khusus jenjang Aliyah, terdapat kerancuan dalam penyebutan jumlah dan rinciannya. Dalam tujuan (Depag 2005:145) disebutkan 1500 kosakata lebih dalam ber-bagai bentuk kata dan pola kalimat yang diprogramkan meliputi tema tentang kegiatan sehari-hari dan kajian keislaman. Rasionalisasi penguasaan 1500 kosakata te-rsebut adalah 300 kata pada jenjang Ibtidaiyah dan 700 kata pada jenjang Tsanawiyah, serta 750 kosakata pada jenjang Aliyah (Depag 2005:145). Di sini terjadi ketidaksinkronan antara jumlah pertama (1500 kosakata) dan jumlah dari rincian (1750 kosakata).
Masih jenjang Aliyah, dalam Bab IE Standar Kompetensi Bahan Kajian (Depag 2005:147) disebutkan 'kosakata yang perlu dikuasai secara kumulatif berjumlah sekitar 1500 kosakata dan ungkapan/idiom, dengan rincian 250 kosakata pada masing-masing semester, jadi 500 kosakata pada masing-masing kelas, sehingga dalam 6 semester peserta didik sudah menguasai sekitar 1500 kosa kata baru yang berkaitan dengan kajian keagamaan dan kemasyarakatan. Sementara itu, dalam Bab II Standar Kompetensi disebutkan Kelas X 250 kosakata, Kelas XI 250 kosakata dan Kelas XII 250 kosakata. Jumlah kumulatif 750 kosakata. Tampaknya jumlah kosakata yang perlu dikuasai di jenjang Aliyah yang benar adalah 750 bukan 1500. Secara keseluruhan, tema dan jumlah kosakata pada masing-masing jenjang adalah sebagai berikut.
Tabel 1
Tema dan Jumlah Kosakata
Di semua Tingkat Satuan Pendidikan

Tingkat
Satuan
Pendidikan

KelasTemaJumlah Kosakata
Per ketasTotal
Madrasah Ibtidaiyah


IVPerkenalan (1), peralatan sekolah, perkenalan (2), bcberapa barang di sekolah, profesi, memperkenalkan diri, keluarga teman, memperkenalkan keluarga dan alamat9 tema@ 10 kosakata = 90 kosakata278


Vdi dalam kelas, taman rumah, ruang keluarga, di dalam kelas, perpustakaan sekolah, taman kota, toko buku, ruang belajar, anggota badan, dan menjenguk orang sakit10 tema @ 10 kosakata = 100 kosakata
VIberbicara, apa yang kamu ihginkan, kamu mengerjakan apa, perintah, nomor, pekerjaan rumah, kapan kamu mengerjakannya? jam berapa?8 tema @ 11 kosakata = 88 kosakata
Madrasah Tsanawiyah


VIIperkenalan (1), perkenalan (2), peralatan sekolah, memperkenalkan keluarga, kelas, di kantor, di perpustakaan, di rumah, di taman, perintah, alamat11 tema @ 20 kosakata = 220 kosakata695


VIIIJam berapa? Belajar bahasa Arab, kegiatan sehari-hari, pergi ke sekolah, bagaimana kita berwudlu, bagaimana kita sholat, kita belajar hitung, perpustakaan sekolah, sepak bola, profesi10 tema @ 25 kosakata = 250 kosakata
IXPeringatan Maulid Nabi saw, puasa Ramadlon, Idul Fitri, acara perayaan, bulan-bulan Qomariyah, Pencipta alam, zakat, haji, sekolah kita9 tema @ 25 kosakata = 225 kosakata
Madrasah Aliyah


Xperkenalan, kehidupan keluarga, hobi dan pekerjaan250 kosakata759


XIremaja, kesehatan, fasilitas umum dan pariwisata250 kosakata
XIIkebudayaan, tokoh-tokoh Islam, wawasan umum dan kisah-kisah Islami250 kosakata
Total Kosakata MI, MTs, MA1723

Dari paparan tentang Kurikulum bahasa Arab di atas, ditemukan tiga hal. Pertama, dalam Kurikulum MI disebutkan "siswa MI diharapkan menguasai 300 kosakata dan ungkapan/idiom yang komunikatif dan tinggi frekuensi pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan madrasah maupun di rumah." Ungkapan   penggunaan kata yang komunikatif di sini kurang tepat karena kata komunikatif hanya berkaitan dengan konteks dan bukan sekedar kosakata. Di samping itu, jumlah kosakata sesuai rincian per kelas hanya 278 kosakata. Dengan demikian, dalam KTSP terdapat ketidaksinkronan antara jumlah dan rincian per kelas.
Kedua, dalam semua tingkatan pedidikan di atas, tema tentang kegiatan rehari-hari selalu disebutkan, sehingga kemungkinan besar akan terjadi tumpang tindih penggunaan kosakata. Sejumlah kosakata yang diajarkan di MI akan terulang di MTs dan MA tanpa adanya penambahan kosakata baru atau tambahan kosakata baru sangat minim. Dengan demikian, target perolehan sejumlah kosakata yang perlu dikuasai siswa tidak akan tercapai.
Ketiga, sebatas yang penulis ketahui, belum ada kejelasan tentang kosakata yang ditargetkan untuk dikuasai siswa. Apakah jumlah kosakata itu mencakup isim, fi'il, huruf atau hanya isim dan fi'il yang dihitung. Demikian juga isytiqaq (derivasi), apakah semua kata yang berasal dari akar yang sama dihitung satu kosakata atau tidak.
Dengan mempertimbangkan masalah-masalah di atas, dalam rangka penyelarasan materi bahasa Arab dan agar materi bahasa Arab tidak tumpang tindih di tingkat pendidikan dasar dan menengah, penulis menganggap perlu adanya kajian tentang kosakata berdasarkan tema tertentu, sehingga dihasilkan daftar kosakata yang dapat dipakai sebagai pijakan. Selain itu, keluhan sebagian besar guru tentang rincinya unsur-unsur yang harus ada dan banyaknya RPP yang harus ditulis guru untuk satu mata pelajaran perlu mendapat perhatian yang serius dan dicarikan jalan keluarnya.
PENYELARASAN MATERI BAHASA ARAB
UNTUK MI, MTS, DAN MA

Materi pelajaran bahasa Arab terdiri atas komponen bahasa dan keterampilan bahasa. Komponen bahasa terdiri atas kosakata, bunyi, dan struktur. Sementara itu, keterampilan bahasa terdiri atas menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Penyelarasan materi dalam tulisan ini hanya berkaitan dengan komponen bahasa berupa kosakata yang dikaitkan dengan topik. Salah satu syarat agar target kurikulum matapelajaran bahasa Arab untuk pendidikan dasar dan menengah (MI, MTs, dan MA) berupa 1750 kosakata dapat terpenuhi, topik dan sejumlah kosakata untuk masing-masing tingkatan sekolah perlu ditentukan secara eksplisit.
Oleh karena itu, penulis mengusulkan (1) adanya kajian tentang kosakata berdasarkan topik tertentu, sehingga dihasilkan daftar kosakata yang dapat dipakai sebagai pijakan, dan (2) agar materi bahasa Arab tidak tumpang tindih, dalam merencanakan silabus, daftar topik, dan siruasi model Krashen dan Terell (1983) yang menggunakan tiga tahap sebagai dasar bagi pembelajaran pemula dapat dimanfaatkan dengan mempertimbangkan tema-tema keislaman untuk modifikasi. Berikut ini disajikan ketiga tahap itu yang mencakup pengenalan diri, penggunaan topik, dan siruasi yang dikenal. Dalam artikel ini, kajian tentang kosakata berdasarkan tema tertentu masih belum disajikan karena memerlukan pembahasan tersendiri.
Dalam merencanakan silabus yang komunikatif, Krashen dan Terrell (1983:73) menggunakan tiga tahap sebagai dasar bagi para pembelajar pemula. Ketiga tahap itu mencakup pengenalan diri (personalization), penggunaan topik, dan siruasi yang dikenal.
Tahap pertama terutama bertujuan untuk mengendorkan (lowering) filter afektif dengan cara memajankan pembelajar pada situasi-situasi yang dapat membuat mereka saling mengenal secara pribadi. Tahap ini disebut tahap identifikasi pribadi {identification stage). Siswa belajar bagaimana melukiskan diri, keluarga, dan teman-temannya dalam bahasa sasaran. Hal ini berarti bahwa mereka belajar bebicara tentang minat, studi, kesenangan, rencana-rencana masa depan, kehidupan-kehidupan sehari-hari, begitu juga topik-topik serupa yang dialami oleh teman-teman sekelas dan orang-orang yang dekat dengan mereka (dalam daftar topik dan situasi, topik I—V). Menurut Krashen dan Terell (1983), ini juga merupakan topik-topik yang mungkin sekali dibicarakan dengan para penutur asli dalam situasi nyata pada pertemuan-pertemuan pertama.
Tahap kedua dimaksudkan untuk menyajikan input yang terpahami (compre¬hensible   input)   bagi pembelajar tentang pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Mereka membicarakan tentang diri mereka, perjalanan, liburan, aneka ragam pengalaman, misalnya masa yang paling bahagia atau paling sedih. Mereka akan mengingat pengalaman-pengalaman mulai kanak-kanak sampai pengalaman-pengalaman di sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Tahap kedua ini juga mencakup penggunaan bahasa sasaran dalam situasi-situasi umum yang mungkin dijumpai pada waktu bepergian atau tinggal di negara bahasa sasaran tersebut. Fokus tahap ini adalah meneruskan filter afektif (Topik VI—XII).
Tahap ketiga menyajikan input dan diskusi yang berkaitan dengan ide. Mereka berdiskusi tentang isu-isu politik, hak-hak kewargenaan, perkawinan, keluarga, dan lain sebagainya serta memperoleh kemam-puan untuk mengungkapkan pandangan-pandangan mereka (Topik XIII—XIV).

Daftar Topik dan Situasi Model Krashendan Terrell (1983:67-70)
Unit Pendahuluan: Belajar Memahami

Topik
  • nama-nama
  • deskripsi siswa (description of students)
  • keluarga
  • angka
  • pakaian
  • warna
  • benda-benda dalam kelas
Situasi
  • ucapan selamat
  • perintah-perintah dalam kelas

  1. Situasi siswa dalam Kelas
Topik
  • indentitas pribadi (nama, alamat, nomor telephon, umur, jenis kelamin, kebangsaan, tanggal lahir, status perkawinan)
  • deskripsi lingkungan kampus (indentifikasi, deskripsi dan lokasi orang) dan benda-benda dalam kelas, deskripsi dan lokasi bangunan-bangunan
  • matapelajaran
  • memberitahu tentang waktu

  1. Rekreasi dan Aktivitas-Aktivitas Waktu Senggang
Topik
  • kegiatan-kegiatan yang paling disenangi
  • olaraga dan permainan
  • iklim dan musim
  • cuaca
  • kegiatan-kegiatan musiman
  • kegiatan-kegiatan hari libur
  • pesta
  • kecakapan/kemampuan
  • minat terhadap kebudayaan dan seni
Situasi
  • olaraga, pertandingan

  • Keluarga, Teman dan Kegiatan Sehari-hari
Topik
  • keluarga dan family
  • pernyataan-pernyataan tentang keadaan fisik
  • pernyataan-pernyataan emosional
  • kegiataan-kegiataan sehari-hari
  • hari libur dan kegiataan-kegiataan liburan
  • binatang piaraan
Situasi
  • perkenalan, menemui orang lain
  • berkunjung ke family

  1. Rencana, Tugas dan Karir
Topik
  • rencana-rencana dalam waktu dekat
  • kegiatan-kegiatan secara umum untuk masa mendatang tugas
  • harapan dan keinginan
  • tempat bekerja
  • karir dan pekerjaan
  • tempat bekerja
  • tugas-tugas dalam pekerjaan
  • gaji dan uang
Situasi
  • wawancara pekerjaan
  • berbicara tentang pekerjaan

  1. Tempat Tinggal
Topik
  • tempat tinggal
  • ruang-ruang yang ada dalam rumah
  • perabot rumahtangga
  • kegiatan-kegiatan di rumah
  • hal-hal kerumahtanggaan

Situasi
  • mencari tempat tinggal
  • perpindahan

  1. Menceritakan Pengalaman-Pengalaman Lampau
Topik
  • kejadiaan-kejadiaan yang baru berlaku
  • kejadiaan-kejadiaan kemarin
  • kejadiaan-kejadiaan hari libur mingguan
  • hari-hari libur dan pesta
  • bepergiaan dan liburan
  • berbagi pengalamanan
Situasi
  • menceritakan pengalaman-pengalaman antarteman

  • Kesehatan, Penyakit dan Keadaan Darurat
Topik
  • bagian-bagian tubuh
  • pernyataan-pernyataan tentang fisik
  • pernyataan-pernyataan tentang mental dan suasana hati
  • menjaga kesehatan
  • profesi kesehatan
  • obat dan penyakit
Situasi
  • pergi ke dokter
  • rumah sakit
  • wawancara kesehatan
  • membeli obat
  • keadaan darurat (kecelakaan)

  • Makan
Topik
  • Makanan
  • Minuman
Situasi
  • memesan makanan di restoran
  • berbelanja di supermarket
  • menyiapkan makanan dengan resep

  1. Bepergian dan Trasnportasi
Topik
  • geografi
  • transportasi
  • liburan
  • pengalaman dalam perjalanan
  • bahasa-bahasa
  • pengalaman-pengalaman baru
Situasi
  • membeli bensin
  • menukar uang
  • pemeriksaan pabean
  • mencari penginapan
  • membeli tiket
  • memesan tempat

  1. Berbelanja
Topik
  • uang dan harga
  • model
  • hadiah
  • hasil-hasil produksi
Situasi
  • menjual dan membeli
  • berbelanja
  • tawar-menawar

  1. Masa Muda
Topik
  • pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak
  • pengalaman-pengalaman di sekolah dasar
  • pengalaman-pengalaman pada usia belasan tahun
  • harapan dan kegiatan orang dewasa
Situasi
  • mengenang masa lalu bersama teman
  • berbagi foto album
  • melihat buku-buku tahunan sekolah

  • Memberi Petunjuk dan Pelajaran
Topik
  • memberi tugas di rumah
  • mengajar di sekolah
  • mengikuti peta
  • mencari lokasi


  • mengikuti latihan untuk pertandingan
  • memberi undangan
  • membuat perjanjian

  • Nilai-Nilai/Etika
Topik
  • keluarga
  • persahabatan
  • cinta
  • perkawinan
  • peran pria/wanita dan klise (sex role and stereotype)
  • tujuan/cita-cita
  • kepercayaan-kepercayaan agama

  • Isu-Isu dan Peristiwa Sekarang
Topik
  • masalah-masalah lingkungan
  • isu-isu ekonomi
  • pendidikan
  • pekerjaan dan karir
  • isu-isu etika
  • politik
  • Kriminal
  • olaraga
  • peristiwa-peristiwa sosial
  • peristiwa-peristiwa kebudayaan
  • kelompok-kelompok ninoritas
  • ilmu pengetahuan dan kesehatan
Situasi
  • diskusi tentang siaran berita kemarin malam
  • membicarakan film baru




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sebelum membicarakan RPP, ada baiknya disajikan terlebih dahulu empat azas pedagogis untuk membantu mendorong cara belajar dan mengajar menjadi lebih baik. Menurut Drost (2005:11-12), empat azas pedagogis tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, apabila suasana sekolah tertib, tidaklah sulit menentukan dengan tepat dan cepat tujuan akademik terbatas untuk tiap-tiap kelas. Dirasakan, itulah syarat pertama untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik. Mengerti apa yang mau diraih dan bagaimana cara mencapainya. Cara yang biasanya dipakai adalah prapelajaran. Pengajar menyiapkan para pelajar dengan baik untuk kegiatan mereka sendiri, yaitu belajar. Hanya dengan cara demikian dapat dihasilkan proses belajar yang baik dan pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang kuat. Kedua, tujuan belajar harus disesuaikan dengan para pelajar. Mereka mampu belajar banyak asal tidak dihujani berbagai bahan pada waktu yang sama. Jadi perhatian akan cakupan dan urutan menjadi amat penting sesuai dengan kemampuan setiap pelajar. Ketiga, asas giat diri dari pelajar disalurkan lewat ulangan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan, hal itu dimaksudkan untuk mendorong, membina, dan melestarikan usaha pelajar menjadi pandai. Ulangan-ulangan tidak dimaksudkan sebagai pengulangan yang membosankan dari bahan hafalan, tetapi kesempatan bagi pelajar untuk dapat berefleksi   guna menyerap apa yang membingungkan atau menggugahnya saat mengikuti pelajaran.     Keempat, tidak mungkin mencapai tujuan tanpa bertandang. Begitu pula mustahil berhasil bila tidak ada motivasi. Selain itu perlu diperhatikan, waktu belajar paling lama dua jam. Sesudah itu harus beristirahat. Perlu juga adanya keanekaragaman dalam kegiatan di ruang kelas. Terlalu banyak bahan dari satu macam hal akan mematikan semangat Sejauh mungkin belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan, baik secara lahir maupun batin. Apabila sejak awal perhatian para pelajar diarahkan kepada bahan yang akan dibahas, minat mereka kepada belajar dan menjadikan belajar sebagai kegiatan menarik.
Semua asas pedagogis itu kait-mengait. Hasil belajar betul-betul merupakan perkembangan yang dinyatakan dalam kebiasaan-kebiasaan dan ketrampilan-ketrampilan. Perilaku atau kebiasaan tidak ditimbulkan hanya karena memahami fakta atau prosedur, tetapi melalui menguasai dan mempribadikannya menjadi milik sendiri. Penguasaan atau     mastering merupakan hasil usaha intelektual dan laihan secara terus-menerus. Namun hasil   yang   baik mustahil diraih apabila tidak ada motivasi yang memadai dari lingkungan insani yang menunjang refleksi.
Adapun tentang format, ada beberapa alternatif format rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dapat dipilih. Paling tidak ada dua format sebagaimana disajikan berikut (Muslich 2007b:55-58).

Format 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Satuan Pendidikan                 :
Mata Pelajaran                      :
Kelas/Semester                     :
Standar Kompetensi              :
Kompetensi Dasar                  :
Indikator                                 :
Alokasi Waktu                        : …… x …… menit (……pertemuan)
A.       Tujuan Pembelajaran………………………….………………………………………………
B.       Mated Pembelajaran ………………………………………..………………………………
C.       Metode Pembelajaran ……………………………..………………………………..……..
D.       Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran……………………………………………
Pertemuan 1:   Kegiatan Awal: (Dilengkapi dengan alokasi waktu)
Kegiatan Inti: (Dilengkapi dengan alokasi waktu)
Kegiatan Pcnutup: (Dilengkapi dengan alokasi waktu)
Pertemuan 2:   Dan seterusnya.
E.       Sumber Belajar (disebutkan secara konkrit)
F.       Penilaian : Teknik, Bentuk Instrumen, Contoh Instrumen (soal/tugas)(ditambah kunci jawaban atau pedoman penilaian)
…………,…………..
Mengetahui,                                                                          Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah
Format 2
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Mata Pelajaran                       :
Satuan Pendidikan                   :
Kelas/Semester                       :
Mata Pembelajaran Pokok     :
Sub-Materi Pembelajaran      :
Alokasi Waktu                          :
A.       Kompetensi Dasar
B.       Indikator Pencapaian Hasil Belajar
C.        Materi Pembelajaraan
D.       Sumber Pembelajaran
E.        Pelaksanaan Pembelajaran
1.   Kegiatan
a.        Pendahuluan
b.        Kegiatan inti
c.        Penutup
2.   Uraian
NoPertemuan keIndikator pencapaian hasil belajarMateri pembeljaranMetode yang dipakaiSaran/ sumber belajar

3.   Penilaian

…………,…………..
Mengetahui,                                                                          Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah

MODEL RPP BAHASA ARAB

Apabila dicermati, unsur-unsur utama pada kedua format RPP di atas sama. Akan tetapi, Format 2 yang disarankan. Untuk menghasilkan RPP Bahasa Arab yang praktis dan berkualitas, perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini.

  1. Standar Kompetensi Bahan Kajian terdiri atas empat keterampilan, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
  2. Masing-masing topik yang terdapat dalam Standar Kompetensi perlu dikait-kan dengan keempat keterampilan bahasa tersebut.
  3. Kegiatan pembelajaran dirancang ber-dasarkan teknik pembelajaran empat keterampilan bahasa.
  4. RPP dibuat 1 buah untuk satu bulan (4 x pertemuan x 45 menit). Ini berarti apabila dalam satu semester jam efektif sekolah 5 bulan, maka hanya ada 5 RPP setiap semester.
  5. Setiap bulan ada 3 kali pertemuan untuk penyajian materi dan 1 kali untuk mereview materi yang sudah diberikan. Review dimaksudkan untuk belajar tuntas (mastery learning) melalui kegiatan permainan bahasa.
  6. Empat ketrampilan berbahasa: menyi-mak, berbicara, membaca, dan menulis dapat disajikan dalam 1 bulan secara bergantian atau bersama-sama.
  7. Materi pembelajaran dan materi untuk review perlu disajikan dalam lampiran.

PENUTUP

Penyelarasan materi dalam tulisan ini hanya sebatas topik dan kosakata matape-lajaran Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Oleh karena itu, penyelarasan materi masih perlu dikaji melalui tulisan yang lebih luas dan mendalam tentang komponen bahasa lainya dan keterampilan bahasa. Kurikulum bahasa Arab untuk TK atau RA dan MI kelas I, II, dan III juga perlu kajian tersendiri.
Agar target kurikulum bahasa Arab da-pat dicapai secara maksimal, dalam tulisan ini juga disajikan model RPP yang mudah dirancang dan mudah dilaksanakan karena merangkum empat keterampilan pada tiga pertemuan dan adanya review pada setiap pertemuan keempat. Selain itu, perlu adanya   penerapan metode-metode baru yang membuat bahasa Arab disenangi dan dapat dikuasai siswa, dan dalam implementasi pembelajaran,   input siswa pada setiap jenjang pendidikan pasti beragam kemampuannya dalam matape-lajaran bahasa Arab. Contoh, input MI berasal dari RA dan TK umum, MTs dari MI dan SD, MA dari MTs dan SMP. Oleh karena itu, perlu pretest dan matrikulasi.
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, masih diperlukan kajian-kajian serupa, penyediaan bahan ajar yang mudah dan berkualitas serta pelatihan-pelatihan guru dalam   merencanakan dan melaksanakan pembelajaran bahasa Arab.


DAFTAR RUJUKAN

Departemen Agama Rl. 2004a Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Departemen Agama RI. 2004bKurikulum 2004: Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Departemen Agama RI.n2005.: Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Drost, J. SJ..2005. Dari KBK (Kurikulum BertujuanKompetensi) Sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Khasairi, Moh. Dkk. 2002. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah se-Wilayah Malang. Penelitian dengan dana DUE-like Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FSUM.
Khasairi, Moh. Dan Kholisin. 2003. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah se-Kota dan Kabupaten Malang. Penelitian dengan dana DUE-like       Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FS UM.
Krashen, S.D. and Tracy D. Terrell .1983.The Natural Approach: Language Acquisition in the Classroom. New York: Pergamon Press.
Muslich, Mansur.2001 aKTSP   (Kurikilum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pe-mahaman dan Pengembangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Muslich, Mansur.2007b.KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensidan Konstektua. Jakarta: PT. Bumi Aksara.


KESEMESTAAN METAFORA DALAM AL-QUR'AN

KESEMESTAAN METAFORA DALAM AL-QUR'AN
“Bentuk metafora banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Qur'an sebagai salah satu cara Allah menjelaskan pengertian wahyu-Nya. Nurul murtadho menjelaskan dalam tulisan ini bahwa metafora dalam al-Qur'an bersifat universal artinyamempunyai pengertian yang sama dalam budaya manapun. Untuk menjelaskan keuniversalan ini, ia memakai analisa medan semantik ruang persepsi manusia menurut model Michael Haley yang membagi nilai universal dalam sembilan kategori”
Penelitian   bahasa   yang   sifatnya unieversal dimulai dengan a) karya Greenberg tahun 1950-an dan konpe-alami rensi bahasa yang bersifat universal di   Dobbs Ferry, New York, tahun 1961; dan b) revolusi linguistik ala Chosmsky yang ditandai dengan simposium tentang keuniversalan teori linguistik di Austin, Texas pada tahun 1967. Kedua konperensi ini mewakili dua aliran penelitian yang berbeda selama tahun 1960-an, yang satu berorientasi pada analisis tipologi untuk data lintas linguistik dan yang lain mengarah pada teori-teori bahasa dan bentuk tata bahasa. Dua aliran ini mulai berinteraksi pada tahun 1970-an. Sekarang penelitian tentang kesemestaan bahasa secara luas telah menjadi perhatian utama linguistic (Ferguson 1978: 8-31).
Alasan untuk mencari kemungkinan adanya metafora yang sifatnya universal ialah bahwa tugas teori linguistik adalah untuk mengembangkan sejumlah universalitas linguistik. Studi tentang universalitas linguistik adalah studi tentang kekayaan suatu bahasa yang alami. Di samping itu, asumsi tentang universalitas linguistik hendaknya juga memperhatikan fenomena linguistic seperti metafora (Wahab 1986:23).
Metafora, sebagai salah satu bentuk di-daktik al-Qur'an, menurut Watt (1991:130), lebih sering muncul dalam al-                Qur'an ketimbang simile. Pendapat ini didasarkan pada penelitian T. Sabbagh, seorang sarjana Arab modern, yang telah mengumpulkan lebih dari empat ratus kata yang digunakan secara metaforik di dalam al-Qur'an.
Dengan banyaknya metafora, yang dapatdikategorikan sebagai fuzzy concept (konsep yang kabur), dalam kitab suci ummat Islam itu, tulisan ini ingin menganalisisnya   berdasar medan semantik ruang persesi manusia oleh Michael Haley yang akan di-     paparkan dalam kerangka teori. Data yang dianalisis diambil dari Bacaan Mulia sebuah Zerjemahan al-Qur'an yang bersifat puitis oleh H.B. jassin (1991).
KERANGKA TEORI
Dalam bagian ini disajikan dua hal penting yaitu konsep metafora dan sebuah model analisis yaitu topografi tentang kategori semantik sebagai suatu hirarki yang mencerminkan ruang persepsi manusia.
  1. Konsep Metafora
Konsep metafora pertama kali diperkenalkan oleh Aris-toteles (384-322 SM). la mendefinisikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan untuk menyatakan suatu nama dengan nama yang lain, atau dengan substitusi satu objek nama tertentu yang dimiliki objek lain, suatu cara substitusi hal yang umum bagi hal yang khusus, hal yang khusus bagi hal yang umum, hal yang khusus bagi hal yang khusus, atau dengan analogi (Eco 1985:91). Konsep ini bersifat umum karena dua bentuk metafora yang pertama adalah sinekdoke.
Quintilian (Wahab 1986:5) mengatakan bahwa metafora adalah ungkapan kebahasaan untuk mengungkapkan sesuatu yang hidup bagi sesuatu yang hidup lainnya, sesuatu yang hidup bagi sesuatu yang mati, sesuatu yang mati untuk sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang mati untuk sesuatu yang mati lainnya.
Untuk menghindari dikotomi umum-khusus, dan hidup-mati seperti dalam dua konsep di atas, Wahab (1991:72) mengajukan konsep metafora dalam komunikasi sebagai ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang, karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Dengan kata lain, metafora adalah pemahaman dan penga-laman akan sejenis hal dimak-sudkan untuk perihal yang lain.
Ketiga konsep di atas men-cakup konsep metafora baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Metafora dalam arti sempit adalah bentuk kiasan khusus di antara bentuk-bentuk kiasan yang lain, yaitu: metoni-mi, sinekdoke, hiperbol, dan sebagainya. Metafora dalam sas-tra termasuk dalam kategori ini karena menurut Percy (1981:84) metafora dalam sastra didefiniskan sebagai "an indirect way to compare things, without using 'like' or 'as'." Dengan demikian, simile, perbandingan dengan menggunakan kata-kata: seperti, seakan, bagai, bagaikan, dan sebagainya, tidak termasuk kategori metafora dalam arti sempit. Metafora dalam arti luas mencakup semua bentuk kiasan yang dalam bahasa Indonesia di-istilahkan majas sebagai terjemahan figure of speech. Majas tersebut menurut Moeliono (1989 175:177) diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu 1) majas perbandingan yang terdiri dari perumpamaan, kiasan/metafora, penginsanan/personifikasi; 2) majas pertentangan yang mencakup hiperbol, litotes (understatement), ironi; 3) majas pertautan yang meliputi metonimia, sinekdoke, kilatan, eufimisme. Dalam kajian ini digunakan metafora dalam artinya yang luas.
Selanjutnya dua hal yang perlu diperhatikan dari definisi metafora adalah kriteria substitusi dan kriteria kesamaan. Kriteria substitusi disebut juga transfer yang berarti«bahwa tanda linguistik yang lazim digantikan dengan suatu tanda linguistik yang tidak lazim. Perbedaan kedua kriteria tersebut adalah bahwa kriteria substitusi berlaku untuk metafora dalam arti luas, yakni semua bentuk kiasan. Sedang kriteria kesamaan hanya berlaku untuk metafora dalam arti sempit (Noth dalam Paprotte dan Dirven 1985:1).
  1. Kriteria dan Model Analisis
Haley (Wahab 1986) menem-patkan satu topografi yang luas tentang kategori semantik sebagai suatu hirarki yang mencer-minkan ruang persepsi manusia. Atas dasar alasan ini, hirarki model Haley ini dapat dipakai untuk memetakan hubungan yang sistematis antara lambang yang dipakai dalam metafora dan makna yang dimaksudkan.
Model hirarki yang diusulkan oleh Haley itu dilukiskan dalam urutan sebagai berikut.
BEING
COSMOS
ENERGETIK
SUBSTANTIAL
TERRESTRIAL
OBJECTIVE
LIVING
ANIMATE
HUMAN
Sebagaimana disarankan oleh Haley, setiap kategori harus dihayati sebagai sub-kategori yang ada di atasnya. Ini berarti bahwa kategori HUMAN meru-pakan sub-kategori ANIMATE, ANIMATE merupakan sub-kategori LIVING, begitu sete-rusnya sampai pada kategori yang teratas, yaitu BEING.
Kriteria yang dipakai untuk menentukan kesemestaan meta-fora yang terdapat dalam al-Qur'an ialah berlakunya kesa-maan lambang kias dan makna yang dimaksud dalam sebagian besar budaya di dunia. Dalam hal ini digunakan A dictionary of Symbols (Cirlot 1962). Metafora di dalam al-Qur'an yang memiliki sifat semesta ini dibagi atas sembilan kategori yang dida-sarkan atas medan semantik ruang persepsi manusia model Michael Haley di atas.
KESEMESTAAN METAFORA
Dengan memanfaatkan kriteria, A dictionary of Symbols, dan medan semantik ruang persepsi manusia oleh Haley di atas berikut ini disajikan analisis kesemestaan metafora dalam al-Qur'an dimulai dari kategori yang teratas yaitu BEING sampai yang terbawah yaitu HUMAN. Untuk setiap kategori disajikan satu ayat atau lebih disertai uraian yang diambil dari Assegaf (1992) kemudian dianalisis.
  1. Being
Medan semantik yang lam-bang kiasnya termasuk kategori being meliputi konsep-konsep yang abstrak, seperti kebenaran, kejujuran, kegelapan dan seba-gainya. Ayat al-Qur'an yang mengandung metafora jenis ini adalah ayat 40 dari surat An-Nur yang terjemahannya sebagai berikut.
Atau (keadaannya) seperti kegelapan yang pekat
Di tengah lautan yang luas dan dalam diliputi gelombang.
Di atasnya gelombang, Di atasnya (lagi) awan-awan (yang tebal),
Kegelapan yang pekat lapis berlapis.
Bila ia keluarkan tangannya,
Hampir-hampir tiada ia melihatnya.
Bagi siapa yang tiada diberi Allah cahaya,
Cahaya pun tiada baginya.

Pada ayat ini, Allah mengibaratkan kekufuran itu bagaikan kegelapan yang pekat di tengah lautan yang luas, dalam dan bergelombang. Sedang di atasnya adalah awan hitam yang tebal dan berlapis-lapis. Sehingga bila ia keluarkan tangannya dihadapan matanya, ia sendiri tak mampu melihatnya.
Kekufuran itu gelap dise-babkan karena terputus dari ca-haya Allah yang memancar di alam raya ini. Oleh sebab itu, hati insan yang terputus dari cahaya Allah, ia akan selalu merasa gelisah dan ketakutan. Menurut Cirlot (1962: 77), dalam budaya manapun, kegelapan secara tradisional dikaitkan dengan warna hitam, lambang kesedih-an.
  1. Cosmic
Kategori medan semantik berikutnya ialah cosmic, yang se-cara hirarkis, langsung ada di bawah kategori Being yang tak terjangkau oleh persepsi manu-sia. Metafora yang lambang kiasnya termasuk kategori ini terdapat dalam surat An-Nur ayat 35 berikut ini:

Allah yang menerangi langitdan bumi.
Perumpamaan cahaya (Allah)
Adalah seperti rongga dalamdinding,
Dalam rongga itu ada pelita,
Pelita itu dalam (bola) kaca.
Kaca itu laksana bintang berkilau,
Dinyalakan dengan (minyak) pohon yang diberkati,
Pohon zaitun yang selalu menerima
Cahaya dari timur dan dari barat,
Yang minyaknya (saj) hampir-hampir berkilau (sendirinya)
Walaupun tiada api menyentuhnya.
Cahaya di atas cahaya!
Allah menuntun kepada cahaya-Nya
Siapa saja yang Ia berkenan,
Dan Allah membuat perumpamaanbagi manusia.
Allah mengetahui segala.

Dalam ayat ini Allah menun-jukkan tentang nur-Nya yang mampu menerangi langit dan bumi. Lebih lanjut ayat ini mengandung metafora dengan tiga lambang kias, yaitu: relung, pelita dan semprong kaca.
  1. Relung
Adalah lubang tersembunyi yang biasanya terdapat di ru-mah-rumah di belahan timur bumi, bersih dan terletak tinggi dari tanah, di mana penerangan (sebelum ada penerangan listrik) biasanya diletakkan. Karena le-taknya yang tinggi memung-kinkan untuk menghamburkan cahayanya ke seluruh ruang dengan sedikit bayang-bayang. Latar belakang dinding dan sisi dari relung membantu melem-parkan cahaya ke seluruh ruang-an dengan baik, dan jika din-dingnya putih dan bersih, maka dinding itu bisa berfungsi seba-gai reflektor. Sama halnya de¬ngan cahaya spiritual, ia terletak pada tempat yang tinggi, di atas segalanya, ia mempunyai relung atau tempat tinggal sendiri, dalam wahyu atau petunjuk dari Tuhannya; ini adalah jalan masuk bagi manusia dengan cara yang khusus, terbuka bagai semua orang, namun demikian ter-tutup bagi mereka yang menolak cahaya ini.
  1. Pelita
Adalah pusat dari keperca-yaan spiritual, di mana dia adalah cahaya yang sesungguhnya, relung tidak berarti apa-apa tan-pa pelita, sesungguhnya relung itu dibuat untuk pelita.
  1. Semprong kaca
Adalah medium transparan tempat lewat cahaya. Ia melin-dungi cahaya itu dari ngengat dan bentuk lain dari kehidupan tingkat rendah, tiupan angin dan dari lainnya.
Ayat ini selanjutnya meng-atakan bahwa minyak yang digunakan untuk menyalakan pelita itu mempunyai kemurnian yang sempurna, yang sampai-sampai dapat membuat pelita itu menyala sekalipun tidak dinya-lakan. Minyak tersebut diambil bukan dari timur atau pun barat, ini menunjukkan bahwa Allah tidak pilih kasih terhadap hamba-Nya.
Yang dibahas di sini adalah lambang bintang yang termasuk dalam kategori Cosmic. Bila dipakai untuk sesuatu yang tinggi bintang mempunyai sifat kesemestaan.
  1. Energetic
Ciri utama benda yang me-wakili kategori ini ialah bahwa ia dapat menempati ruang dan dapat bergerak, seperti kilat, api, panas dan sebagainya. Marilah kita perhatikan ayat berikut.
Apakah salah seorang di antara kamu ingin mempunyai kebun dengan korma dan anggur,
Di bawahnya mengalir sungai-sungai,
Dan segala macam bua-buahan ada di dalamnya untuknya, sedang ia menjadi tua,
Dan anak-anaknya (masih) lemah,
Lalu kebun itu dilanda angina kencang yang mengandung api, sehingga terbakar?
Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya)
Supaya kamu memikirkannya. (Al-Baqarah 266)

Kehidupan spiritual yang benar berkali-kali digambarkan Seumpama kita memiliki kebun yang indah dengan pengairan dan tanah yang baik, ada air mengalir, sebuah surga tempat kita menghilangkan penat tubuh dan segala sesuatu yang membebani pikiran, sedangkan usia kita semakin bertambah, dan anak-anak kita masih terlalu muda untuk menjaga diri mereka sendiri, atau mereka kurang sehat. Kemudian bagaimana perasaan kita bila tiba-tiba berhembus angin kencang disertai dengan kilatan cahaya atau api yang memusnahkan segala yang ada di dalamnya, memusnahkan semua harapan kita akan haris esok yang lebih baik.
Bagaimanapun hidup ini penuh dengan segala kemungkinan. Kita mungkin bekerja ke-ras, menabung dan memiliki peruntungan yang baik. Kita mungkin bisa membuat hidup kita senang, dan mempunyai harapan yang tinggi bagi diri kita dan anak-anak kita. Namun angin kencang yang disertai dengan api yang menyala-nyala menghancurkan semua harapan kita. Kita terlalu tua untuk memulainya kembali, sedangkan anak-anak kita masih terlalu muda atau terlalu lemah untuk membantu kita memperbaiki kerusakan. Kesempatan kita hilang, karena kita tidak meleng-kapi diri dengan kemungkinan-kemungkinan lain.
Sesungguhnya ada tindakan pencegahan yang bisa kita la-kukan sebagaimana yang dipe-rintahkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, yaitu dengan menaf-kahkan harta di jalan Allah serta bersikap adil terhadap sesama manusia, karena kedua hal ini adalah merupakan jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tanpa itu kita hanya akan terbawa oleh arus perputaran dunia yang tidak pasti.
Angin dan api adalah dua bentuk energi. Angin sebagai lambang kias tidak mempunyai. Dalam budaya Arab dan Yahudi (Cirlot 1962:373), angin dikaitkan dengan kata ruh yang berarti napas. Dalam kedua budaya itu, angin dipakai untuk melam-bangkan aktifitas kehidupan. Akan tetapi, dalam kebudayaan Mesir dan Yunani, angin dipa-hami sebagai lambang kekuatan jahat. Sebab, kalau ia membentuk typhon, ia dapat membinasakan seluruh kehidupan yang dilandanya.
Sementara itu, api sebagai lambang kias mempunyai makna yang universal. Dalam budaya Mesir, Cina dan Yunani, juga budaya Indonesia, api dikaitkan dengan konsep kehidupan, kesehatan, kekuasaan, dan tenaga spiritual.
  1. Substance
Benda-benda yang mewakili kategori ini ialah anggota-anggota kelompok substansi di bumi yang dapat bergerak, terletak pada suatu tempat, dan diperkirakan ada. Di samping itu, substansi itu mem punyai sifat-sifat lain, yaitu tak mempunyai bentuk yang pasti, tak bernyawa, dengan sendirinya tak mempunyai perasaan dan tak memiliki intelegensi. Perhatikan ayat berikut.
Dan orang yang kafir, Amalnya seperti fatamorgana di tanah yang datar,
Disangka air oleh orang yang sangat dahaga, Sampai, ketika ia tiba di sana,
Didapatinya air itu bukan apa-apa. Tapi ia mendapatkan (ketetapan)Allah amat cepat (menyelesaikan) perhitungan. (An-Nur 39)

Fatamorgana mengandung makna negatif sebagai lambangkehampaan dan kesia-siaan.
  1. Terrestrial
Yang mewakili kategori ini ialah benda-benda terrestrial seperti samudera, laut, ombak, gunung, sungai, dan sebagainya. Surat al-Baqarah ayat 265 meng-andung metafora jenis ini.
Dan perumpaan orang yang menafkahkan kekayaannya untuk mencari keridlaan Allah, Dan untuk keteguhan jiwanya, Adalah seperti kebun di tempat yang tinggi.
Hujan lebat menimpanya. Maka dihasilkannya makanan dua kali ganda.
Dan jika tiada hujan lebat menimpanya, (Paling sedikit) ada embun. Allah melihat segala yang kamu lakukan.

Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebuah ladang dengan tanah yang baik dan terletak pada tempat yang baik. Ladang tersebut mendapat curahan hujan yang cukup, sehingga kelembaban mampu menembus hingga ke dalam tanah. Kondisi yang baik ini pada akhirnya akan memberikan hasil yang baik pula, dan bila pada suatu saat curah hujan tidak seperti yang diharapkan, maka tetesan embun sudahlah cukup baginya.
Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sehat secara spiritual, dalam keadaan lapang ia tak menyimpan hartanya untuk keperluannya sendiri saja, tetapi juga menyisakan sebagiannya untuk orang lain, dan dalam keadaan sempit ia tetap bersabar dan ber-syukur dengan apa yang didapatinya. Ia percaya akan kenik-matan yang nanti akan didapatinya dan itu semakin memperkuat keyakinannya. Orang-orang yang demikian ini tidak akan luput dari kedermawanan Tuhan.
  1. Object
Sifat-sifat kategori ini ialah bahwa kategori ini termasuk dalam kelas sustantial yang ada di bumi, dapat bergerak, terikat oleh dimensi ruang dan karena itu, keberadaannya dapat diper-sepsi. Satu perbedaan yang ada dari kategori di atasnya ialah bahwa kategori ini memiliki bentuk yang pasti. Karena sifat-nya yang terakhir inilah, kategori ini mencakup segala macam benda termasuk batu-batuan dan barang tambang lainnya. Mari kitaperhatikan ayat berikut.
Kemudian setelah itu,
Hatimu menjadi keras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi.Padahal di antara batu-batu itu,Sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya.
Dan di antaranya,Sungguh ada yang terbelah,Lalu keluarlah mata air dari padanya.
Dan di antaranya,
Sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.Dan Allah sekali-kali tidak lengah,dari apa yang kamu kerjakan.
(Al-Baqarah 74)
Batu sebagai lambang kias metafora pada ayat di atas, yang menunjukkan adanya makna keras sifatnya semesta.
  1. Living
Ciri-cirinya sama dengan yang terdapat pada kategori Object ditambah dengan ciri adanya kehidupan organik, sebagai-mana tercermin dari ayat berikut.
Tiadakah kau lihat, bagaimana Allah membuat perumpamaan? Suatu perkataan yang baik Seperti pohon yang baik. Akarnya kuat (terhujam), Dan cabangnya ke langit (menjulang).

Ia menghasilkan buahnya setiap waktu dengan seizin Tuhannya.Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia,Supaya mereka ingat selalu.
Dan perumpamaan perkataan yang buruk
Adalah seperti pohon yang buruk,
Yang dicabut dari dalam bumi,
Dan tiada kekuatannya.
(Ibrahim 24-26)

Ayat di atas menerangkan bahwa kalam Allah itu baik, artinya bersih dari segala ajaran yang bertentangan dengan akal sehat dan kata hati manusia. Lambang kias metafora di atas adalah pohon yang baik mem-punyai ciri-ciri:
  1. Akarnya kuat terhujam ke tanah, sehingga tidak akan merunduk karena tertiup angin. la tetap tegak berdiri meskipun badai dan taufan datang menerjang. Demikian halnya dengan firman Allah yang tak akan berubah sedikitpun meskipun tim-bul kecaman dan cacian. Firman Allah itu mendapat hayat dan ja-minan hidup hanya dari satu sumber dan karena itu tidak ada ketidakserasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip ajarannya.
  2. Dahan-dahannya menjangkau ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkan firman-Nya, manusia akan dapat naik ke puncak kemuliaan rohani tertinggi.
  3. Buahnya banyak berlimpah disegala musim. Demikian halnya dengan kalam Allah, berkatnya akan terasa sepanjang masa. Kalam Allah sepanjang masa akan dapat meng-kaderkan manusia, yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya, akan dapat mencapai hubungan dengan Allah. Dan karena kejujuran dan kesuciannya dalam bertingkah laku, ia akan dapat menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka. Al-Qur'an memiliki sifat itu dengan ukuran yang sepenuhnya.
Berbeda dengan pohon yang baik, pohon yang buruk tidak akan tahan terhadap pengaruh alam. Demikian halnya dengan perkataan yang buruk, yang dibuat oleh seorang pemalsu, ia tidak memiliki kekekalan dan kemantapan. Ajarannya tidak didukung akal maupun hukum-hukum alam.
  1. Animate
Ciri yang terdapat dalam kategori ini adalah bernyawa, dan karenanya mempunyai perasaan. Yang mewakili kategori ini ialah semua jenis flora. Metafora dalam kategori ini tercermin dari ayat berikut.
Perumpamaan orang-orang yang menjadikan berhala-berhala menjadi pelindung. Yang diharapkan pertolongannya,
Selain dari Allah, Sama seperti laba-laba dengan sarangnya. Bahwasannya rumah yang paling rapuh, adalah sarang laba-laba. Itupun kalau mereka menyadari. (Al-Ankabut 41)

Sarang laba-laba sebagai lambang kias yang menandakan kerapuhan, serta tidak bisa melindungi penghuninya dari bahaya yang datang dari luar bersifat semesta.
  1. Human
Yang termasuk dalam kategori ini adalah manusia dengan segala macam tingkah lakunya sendiri sebagaimana dapat dibaca ayat berikut.
Sesudah amarah Musa diam (menjadi reda), diambilnya kembali luh-luh (Taurat) itu. Dan dalam tulisannya, terdapat petunjuk dan rahmatuntuk orang-orang yang takut kepada-Nya. (Al-A'raf 154)

Dalam ayat di atas, amarah dihayati sebagai manusia yang dapat bergerak dan diam. Metafora yang menggunakan lam-bang manusia dan perilakunya itu sifatnya juga semesta.
KESIMPULAN
Dari kajian di atas terungkap bahwa metafora yang ada dalam al-Qur'an mempunyai nilai universal yang terbagi atas sembilan kategori berdasarkan medan semantik ruang persepsi manusia model Michael Haley, seorang filosof dan pakar kebahasaan dari Amerika.
Di samping itu, keberadaan metafora dalam al-Qur'an meru-pakan penjelasan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit. Dengan kata lain, terda¬pat perhatian konsepsi Qur'ani tentang persepsi manusia, di mana indera manusia diberi peran yang menonjol.
Daftar Pustaka

Assegaf, Ali Ahmad. 1992. Al-amtsal fi al-Qur'an wa al-Hadits. Jakarta: Penerbit Inayah.
Cirlot, JE. 1962. A Dictionary of Symbols. New York: Philosophical Library.
Eco, Umberto. 1985. Semiotics and the Philosophy of Language. London: The Macmillan Press Ltd.
Ferguson, Charles A. 1978. Historical Background of Universal Research dalam Universals of Human Language. Edited by Joseph H. Greenberg. Vol. I. California: Stanford University Press.
Moeliono, Anton M. 1989. Diksi atau Pilihan Kata dalam Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: Penerbitan PT. Gramedia.
Noth, Winfried. 1985. Semiotic Aspects of Metaphor dalam The Ubiquity of Metaphor: Metaphor in Language and Thought. Edited by Wolf Paprotte & Rene Dirven. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Persy, Bernard. 1981. The Power of Creative Writing. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall.
Yassin, H.B. 1991. Al-Qur'an al-Karim, Bacaan Mulia. Jakarta: Penerbit Mizan.
Wahab, Abdul. 1986. Javanese Metaphors in Discourse Analysis. Disertasi University of Illinois, Champaign-Urbana.
……………..1991.   Isu   Linguistik: Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
Watt, W. Montgomery. 1991, Pengantar Studi al-Qur'an. Jakarta: Penerbit CV Rajawali.

DESIGNING A MODEL A LESSON PLAN FOR ARABIC AS A FOREIGN LANGUAGE

DESIGNING A MODEL A LESSON PLAN FOR
ARABIC AS A FOREIGN LANGUAGE

School-based Curriculum known in Indonesia as Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KSTP) should be implemented by 2009/2010 throughout Indonesia. It contains objectives, its structure and materials, calendar, and lesson plan. However, many teachers of all levels attending Education and Training for Teaching Profession in Batu Malang in 2009 and 2010 complained to the author about the difficulty of designing a lesson plan. Due this problem, this paper presents how to design a model of lesson plan for any foreign language especially Arabic which is practical and qualified.
Arabic language is a compulsory subject taught at all levels of schools under the auspices of the Department of Religious Affairs, and an optional subject at Senior High Schools under the auspices of the Ministry of Education. However, studies pinpoint to the woeful fact that Arabic language teaching in Indonesia of all levels, from Madrasah Ibtidaiyah (Khusairi et.al., 2002) and Madrasah Tsanawiyah (Khusairi & Kholisin 2003) up to Madrasah Aliyah (Maslichah et.al., 2002) has been plighted by a strain of problems that urgently demand solution.
A number of teacher who attended Education and Training Program for Teaching Profession run by Teachers’ Certification Center (District 15) at State University of Malang in 2009 and 2010 complained about difficulties of designing lesson plans for several language-related subject. Those teachers (most of whom teach Indonesian, English and Arabic languages) approached the author and explained that they could not implement the available lessons plan models because they did not participate in the previous lesson plan designing workshops. They found that the process of writing such lesson plans were exceedingly complicated and demanded lots of energy and paperwork. They were also required to produce copious texts. The existing guidelines necessitates them to produce one lesson plan for two sessions, which means every teacher were doomed to design not less than 10 lesson plans for a single semester for a subject that took two hours of tutorial per week. This article is written with the aim of aiding those teachers design and implement teaching and learning process, instructional objectives, teaching-learning methods and evaluation as well as suggested lesson plans.
  1. Planning Teaching-Learning Process
Teaching-learning processes include syllabi and written lesson plans that clearly indicate subject identity, standards of competency, basic competencies, indicators of achievement, instructional objectives, teaching materials, time allocation, teaching-learning methods, teaching-learning activities, evaluation, and 1 resources (Ministry of National Education Bylaw number 41 of 2007). Below is the detailed explanation for the above ideal lesson plan:
  1. Subject identity. Subject identity should indicate the name of subject/item, class, semester/academic year, program/vocational program, the title or specific theme of tutorial and total number of sessions required to meet the whole objectives.
  2. Standard of competency. The term refers to minimum required qualification to be acquired by the students, and this should pinpoint the scope/level of knowledge, attitude or skills they are expected to attain at the end of each sessions or when the teaching-learning process terminates.
  3. Basic competency. This means whole range or number of abilities to be mastered by the students who take specific subjects that serve as the reference for determining indicators of competency for certain subjects.
  4. Indicator of achievement. The term refers to a set of observable and measurable behaviors that indicate the achievement of certain basic competency that serve as the criteria for evaluation. The formulation of indicator of achievement uses measurable and observable operational words that include knowledge, attitude and skill.
  5. Instructional objectives. Instructional objectives represent the processes and outcomes of teaching & learning process pursuant to the basic competencies.
  6. Learning materials. Learning materials should mention relevant facts, concepts, principles and procedures that are carefully listed in accordance to the formulated indicators competency.
  7. Time allocation. Time is carefully allocated as required in order to help achieve basic competency and instructional load.
  8. Learning method. Teachers employ specific methods in order to create conducive learning atmosphere and teaching processes to help students achieve basic competencies or a set of predetermined indicators. Instructional methods are determined and adjusted to the characteristics of each indicator and competency to be attained in each subject. Thematic teaching approach is implemented for students of grades 1 to 3 at Madrasah Ibtidaiyah (Elementary School).
  9. Teaching & Learning Activity.
  10. Introduction. Introduction is the opening part of each session that aims to raise students’ motivation and direct their attention to the topic and encourage them to fully participate in the entire learning process.
  11. The main activity. The main activity comprises the full array of instructional efforts that aims to help student achieve the basic competency. The activity should be interactive, inspirational, fun, challenging and motivates students to fully participate and give them ample room to take initiatives, express their creativity and prove their independence in an atmosphere that fully support and nurture their talents, interest as well as their physical and psychological stage of development. The activity should be systematic and systemic in nature, and allow student to explore, elaborate and confirm all pieces of information that they acquire.
  12. Closing. As the name suggests, closing is part of the activity that concludes the sessions and in such part of the teaching & learning process teachers can present the conclusion or summary of the whole material, give evaluation and reflection, feedback as well as follow-ups.
  13. The procedures and instruments of evaluation should be in line with the indicators of competency and should closely observe the evaluation standards.
  14. Learning resources. Learning resources are determined on the basis of standards of competency and basic competency, instructional materials, teaching activities and indicators of competency.
Upon close examination we will discover that basically the contents and details of syllabi and lesson are identical. In that case, the author suggests that Standards of Competency, Basic Competency and Indicators of Competency not included in the lesson plan. The suggested components of lesson plans and their order are as follows:
  1. Subject identity (including the time allocation)
  2. Instructional objectives
  3. Teaching materials
  4. Teaching & learning methods
  5. Evaluation
  6. Main activity
  7. Learning resources

  1. Exploring of Standards
Exploring Standards, Arabic as a foreign language teaching in Indonesia should use The Common European Framework (CEFR). It divides learners into three broad divisions which can be divided into six levels: (A) Basic Speaker; A1 Breakthrough, A2 Way Stage; (B) Independent Speaker: B1 Threshold, B2 Vantage; (C) Proficient Speaker: C1 Effective Operational Proficiency, C2 Mastery (Wikipedia). The CEFR describes what a learner is supposed to be able to do in reading, listening, speaking, and writing at each level.
Level:Description:
A1Can understand and use familiar everyday expressions and very basic phrases aimed at the satisfaction of needs of a concrete type. Can introduce him/herself and others and can ask and answer questions about personal details such as where he/she lives, people he/she knows and things he/she has. Can interact in a simple way provided the other person talks slowly and clearly and is prepared to help.
A2Can understand sentences and frequently used expressions related to areas of most immediate relevance (e.g. very basic personal and family, shopping, local geography, employment). Can communicate in simple and routine tasks requiring a simple and direct exchange of information on familiar and routine matters. Can describes in simple terms aspects of his/her background, immediate environment and matters in areas of immediate need.
B1



Can understand the main points of clear standard input on familiar matters regularly encountered in work, school, leisure, etc. Can deal with most situations likely to arise whilst travelling in an area where the language spoken. Can produce simple connected text on topics which are familiar or of personal interest. Can describe experiences and events, dreams, hopes & ambitions and briefly give reasons and explanation for opinions and plans.
B2Can understand the main ideas of complex text on both concrete and abstract topics, including technical discussions in his/her field of specialization. Can interact with a degree of fluency and spontaneity that makes regular interaction with native speakers quite possible without strain for either party. Can produce clear, detailed text on a wide range of subjects and explain a viewpoint on a topical issue giving the advantages and disadvantages of various options.
C1Can understand a wide range of demanding, longer texts, and recognize implicit meaning. Can express him/herself fluently and spontaneously without much obvious searching for expressions. Can use language flexibly and effectively for social, academic and professional purposes. Can produce clear, well-structured, detailed text on complex subjects, showing controlled use of organizational patterns, connectors and cohesive devices.
C2Can understand with ease virtually everything heard of read. Can summarise information from different spoken and written sources, reconstructing arguments and accounts in a coherent presentation. Can express him/herself spontaneously, very fluently and precisely, differentiating finer shades of meaning even in the most complex situations.

Deutsche Welle (sponsored by the German government) suggests A-1 is reached with about 75 hours of German study. A-2.1 about 150 hours. A-2.2 about 225 hours. B-1.1 about 300 hours. B-1.2 about 400 hours. These descriptors can apply to any of the languages spoken in Europe, and there are translations in many languages.
KTSP 2006 defines the and objectives of teaching of Arabic language for Senior High School or Madrasah Aliyah as follows:
Arabic language pedagogy in Indonesia aims to provide students with basic skills in listening, speaking, reading and writing for basic communication purposes. The scope: The teaching of Arabic Language consists of oral discourses and writings (in the for of expositions and simple dialogs about self identity, life at school, family life, daily life, hobbies and travels, all of which are intended to promote students ability in listening, speaking, writing, and reading. In addition to that, students are exposed to hijaiyah Arabic script/alphabet.
As an optional foreign language, Arabic is taught for either 2 semesters or 6 semesters consecutively (which is composed of 4 sessions per week). This means that the entire 6 semesters (require 4 x 40 minutes x 20 (weeks) x 6 (semesters) = 19200 minutes (320 hours). Time required by students to qualify for A Basic speaker (A1 and A2) = 450 hours. Sadly his clearly indicates that (on the basis of the objective and total time allocated for Arabic at Indonesian Senior High School or Madrasah Aliyah) students of Arabic in Indonesia still fall between A1 Breakthrough and halfway to A2 Way stage.
  1. Teaching Method And Assessment
Brushing up teaching methods for Arabic as a foreign language should create a more practical guide to study skills instruction-one that is teacher-tested, used-friendly, and broad-based, with enjoyable learning activities as directed by Mach et al (2008:3). Among techniques for assessment, authentic assessment should be taken into consideration. It requires what John Dewey described as “habits of mind”. Children who have solid habits of mind resonate with authentic assessment techniques (Janesick 2006:102). They learn:
  1. From experience;
  2. In a given context;
  3. In a given learning community;
  4. With a responsibility for improving their own performance;
  5. Demonstrating through a performance task what a student can do.
  6. That this approach would lead to understanding a concept of acquiring knowledge and not merely memorizing an isolated fact, a test maker, who is not a professional educator deems to be a correct answer.

  1. Suggested Model for Arabic Lesson Plan
Designing a suggested model for Arabic lesson plan, the writer delivers two points below, i.e. (1) Steps of Lesson Plan Writing and (2) Sample of Arabic Language Lesson Plan.
  1. Steps of Lesson Plan Writing.
  2. Determine and write down the yearly (annual) and semester-based program on the basis of the total effective sessions and allocated time for each lesson plan.
  3. Basic competency for a single semester should be divided into five.
  4. For the sake of efficiency, each lesson plan should cover a full one month scenario. In other words, if in a single semester consist of five month effective teaching & learning process, you should design 5 (five) lesson plans for the entire semester.
  5. The basic competency (that has been divided into five items) is distributed into five lesson plans.
  6. Each lessons plan covers four meeting/sessions: three meeting for discussing new materials, and one meeting for review through games or oral/written tests.

  1. Sample of Arabic Language Lesson Plan.
In the pages to follow please peruse a sample of Yearly and Semester-based lesson plan that clearly indicate the effective total number of meetings plus their allocated time, plus a sample lesson plan that covers four sessions.
ANNUAL PROGRAM
Name of Subject              : Arabic Language
Grade/Class                       : X
Academic Year  : 2010/2011

SemesterBasic CompetencyTime
Allocation
I2.1  Discriminately identity the sounds of Arabic script (hijaiyah) and utterances (words, phrases, or sentences) within a given context, find the similarities and differences among sounds and words.
2.2  Acquire general and specific information from various forms of simple oral discourses.
10
Sessions
2.3  Orally convey some information using the right pronunciation within simple sentences bound within given contexts that represent politically correct oral proficiency.
2.4  Fluently deliver simple dialogues that represent accurate and politically correct oral proficiency.
10
Sessions
3.
3.1  Pronounce and loudly read Arabic scripts, words, sentences and simple written discourses.
3.2  Correctly identity the forms and themes of simple discourses.
3.3  Acquire general and specific information from simple discourses by way of recognizing the correct keywords.
10
Sessions
4.
4.1  Write and complete Arabic scripts, words, phrases and sentences using the right punctuations.
4.2  Produce written informative expositions using simple context-bound sentences that represent writing prowess (as indicated by the ability to use the correct scripts, punctuations and grammatical structures)
10
Sessions
TOTAL40
Sessions


Seme
ster
Basic CompetencyTime
Allocation
II5.
5.1  Identify the sound of utterances (words, phrases or sentences) within a given context and accurately find the similarities and differences among them.
5.2  Acquire general and specific information from various simple oral discourses.
10
Sessions
6.
6.1  Convey informative, simple oral presentation within given context that represent accurate and politically correct oral proficiency.
6.2  Perform simple, yet fluent dialogues that represent politically correct and accurate communication skill.
10
Sessions
7.
7.1  Loudly read words, phrases and sentences within simple written discourses.
7.2  Correctly identify the forms and themes of simple discourses.
7.3  Accurately acquire various pieces of information from simple written discourses
10
Sessions
8.
8.1  Produce written informative expositions using simple, context-bound sentences that represent writing skills.
8.2  Accurately use words and phrases, using the correct spelling, punctuations and grammatical structures.
10
Sessions
TOTAL40
Sessions

SEMESTER-BASED PROGRAM

Subject                                 : Arabic Language
Grade/Semester              : X/I
Academic Year                  : 2010/2011

  1. TIME ALLOCATION (The Sum of Effective Teaching Weeks)

NoMonthTotal Weeks
1July 20103
2August 20102
3September 20102
4October 20104
5November 20104
6December 20104
TOTAL20

  1. LESSON PLANS

LESSON PLANTIME ALLOCATION
LESSON PLAN I4 sessions
8 x 40 minutes/8 hours
LESSON PLAN II4 sessions
8 x 40 minutes/8 hours
LESSON PLAN III4 sessions
8 x 40 minutes/8 hours
LESSON PLAN IV4 sessions
8 x 40 minutes/8 hours
LESSON PLAN V4 sessions
8 x 40 minutes/8 hours
TOTAL20 sessions/40 hours

LESSON PLAN I

  1. Subject Identity

Subject                                                 : Arabic Language
Grade/Semester              : X/I 2010/2011
Time Allocation                 : 8 x 40 minutes (8 hrs x 4 sessions)

  1. Instructional Objectives
  2. Teaching Materials
  3. Teaching Methods
  4. Evaluation
  5. Steps
SessionSteps
OpeningMain activityClosing
1   
2   
3   
4Review
Language games, spoken or written test

  1. Learning Resourses

Headmaster/Supervisor                                               Arabic Instructor,
(                                              )                              (                                              )
References
Janesick, Valerie J. 2006. Authentic Assesment. New York: Peter Lang Publishing, Inc.
Khusairi, Moh. Dkk. 2002. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah se-Wilayah Malang. Penelitian dengan dana DUE-like Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FS UM.
Khusairi, Moh. Kholisin. 2003. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab di MTs se Kota dan Malang. Penelitian dengan dana DUE-like Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FS UM.
Mach, Jeanne R. et al. 2008. Effective Study Strategies for Every Classroom Grades 7-12. Nebraska: Boys Town Press.
Maslichah, Nurhidayati, Moh. Ainin. 2002. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah se Kabupaten Malang. Penelitian dengan dana DUE-like Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FS UM.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007. 2007. Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Wikipedia, the Free Encyclopedia. Common European Framework of Reference for Language.

IMPROVING THESES QUALITY THROUGH PUBLIC INFRASTRUCTURES AND SERVICES

IMPROVING THESES QUALITY
THROUGH PUBLIC INFRASTRUCTURES AND SERVICES

Abstract. As far as I know, database about theses, research grants and contracts that have been conducted are not available in most universities in Indonesia. This condition raises some problems, i.e. (1) the difficulties in detecting whether certain research has already been conducted or not at any institution, (2) the tendency of plagiarism, and (3) the difficulties in advancing science and technology due to the failure to consult the documented. Glancing at the lack of thesis quality and the tendency of plagiarism, this article aims at offering “Improving Theses Quality Through Public Infrastructure on scientific information system, and designing strategic plans that cover mapping and planning thesis, projecting net-working between universities and increasing access to valuable information on research by designing interactive CD.
Key Words: Theses Quality, Public Infrastructures and Services
The vision of any Study Program in ex-LPTK (Institute of Teacher Training and Education) in global era, should be similar to the vision of the Study Program of Arabic Education (SPAE) at State University of Malang, i.e. to make itself a center of excellence and a reference institution in the fields of education, research, and application of science and technology related to the program with the view to meet the demands of the society for professional teachers. Accordingly, the mission of The Study Program is to carry out education with the major purpose of producing high-quality graduates who are professional in teaching, research, and community service. Moreover, these graduates are ready to compete in the labor marker which demands high proficiency in their field of specialization (SPAE 2002).
As far as research quality is concerned, university af Glasgow is among those committed to the research ethics and this is reflected not only in the achievements of individual researches, departments and centers but by university’s commitment in term of planning and budgeting (University of Glasgow 1995).
Glancing at the lack of thesis quality and the tendency of plagiarism, this article aims at offering “Improving Theses Quality Through Public Infrastuctures and Services” which focuses on projecting infrastructure on scientific information system, and designing strategic plans that cover mapping and planning thesis, projecting net-working between universities and increasing access to valuable information on research by designing interactive CD. These need university’s commitment in terms of planning and budgeting.
  1. Projecting Infrastructure on Scientific Information System
Scientific Information System is a must for academic atmosphere for being centers of excellence and reference institutions in the field of education, research, and application of science and technology, as shown in some universities in Australia, Singapore, and China visited by Bonaventura (Jawa Pos August 2,2005). Therefore there are two kinds of Information System as samples will be presented below, i.e. library network in University of California at Berkeley, Computing Facilities in University of Glasgow and University Microfilms International (UMI) Dissertation International Services.

  1. Library Network at University of California at Berkeley
The UC University’s on-line information service of its central library connects most buildings on campus, one undergraduate library and 23 schools libraries, and is connected to supra system in California that is on-line with libraries of 9 UC’s campuses and 22 campuses of California State University. Besides, the network has been connected with other universities libraries like Harvard, Stanford, Oxford and so forth. This allows you to reach library catalogues and bibliographic services over the network and had been running since the 80s when Indonesia had not been aware of internet (PPS UI 1999).
  1. Computing Facilities at University of Glasgow
The computing services is responsible for running the central computers systems, the Campus network, and a number of microcomputer clusters. It also provides supporting services to help you use computers effectively, including training courses, documentation, on-line information services, an advisory service, and shop where you can buy software and computer supplies. Most departments have their own computer systems which you will also be able to use, but the Computing service facilities and supporting services are available to all. The larger central computer is a Sun Sparc Center 1000 which runs the Unix operating system (University of Glasgow 1995).
  1. University Microfilms International (UMI) Dissertation Information Services
Below is a short description about UMI’s Dissertation Information Services, its database and how it works. UMI’s Dissertation Information Services is a program publishing, bibliographic, and copy services which enables the researcher to locate doctoral dissertations, and to acquire copies of those manuscripts published by UMI. The foundation upon which these services is structured is UMI’s comprehensive dissertation database, one of the largest and most widely used bibliographic information files in the world.
The Dissertation Database. UMI’s dissertation database is a computerized index containing bibliographic citations of more than 850.000 North American Doctoral dissertation dating back to 1986. In addition, citations to 25.000 masters’ these are included in this valuable information file. More than 30.000 dissertation citations and 25.000 masters’ thesis citations are added to UMI’s dissertation database each year. New citations are entered into the database each month.
UMI’s Search services. Dissertation Abstracts International (DAI) published monthly includes abstracts of doctoral dissertations submitted to UMI by nearly 400 participating institutions in North America and throughout the world. Each author-prepared abstract, up to 350 words in length, describes in detail the original research project on which the dissertation is based. Most of the approximately 30.000 dissertations published by UMI each year are abstracted in DAI and may be purchased in microform or as paper copies.
Monthly issues of DAI include approximately 2.500 abstracts printed in three separate sections (a) The Humanities and Social Sciences: communication and the arts; education; language, literature and linguistic; philosophy, religion and theology; social sciences; (b) The Sciences and Engineering: Biological Sciences; Earth Sciences; Health and Environmental Sciences; Physical Sciences; and Psychology, (c) European Abstracts, published quarterly and including abstracts of dissertations in all disciplines accepted for doctoral and post-doctoral degrees at European institutions.
Database and Online Search Services. One of UMI’s most valuable search services is DATRIX Direct, a computerized search and retrieval system. Updated monthly, DATRIX Direct gives researchers direct access to the dissertation database. Because the researcher controls the search by selecting subject categories and key-words, DATRIX Direct is one of the most useful research tools available for state-of-the-art information in specialized fields.
Attaching importance to infrastructure on the above information systems, a university should project computing facilities especially library network that includes one with other universities. Secondly, projecting Dissertation Information Services should be done by a group of universities, foundation or planned by Directorat General of Higher Education. Another alternative is each university serves all research reports conducted by students and academic staff that can be accessed from the internet.


  1. Designing Strategic Plans
Designing strategic plans that enhance these quality includes mapping and planning theses, projecting net-working between universities and increasing access to valuable information on research by designing interactive CD.
  1. Mapping and Planning Theses
In line with the above vision and mission, each Study Program should set up two major objective: (1) to improve its academic performance and make its field of specialization more relevant to the community needs, and (2) to improve students’ specific proficiency to meet the market demands (SPAE 2002). To achieve these objectives concerning with research, mapping and planning these must be carried out.
As far as I know, database about theses, research grants and contracts that have been conducted are not available in most universities in Indonesia. This condition raises some problems, i.e. (1) the difficulties in detecting whether certain research has already been conducted or not at any institution, (2) the tendency of plagiarism, and (3) the difficulties in advancing science and technology due to the failure to consult the previous studies which have been poorly documented (Murtadho 2001).
Therefore, planning a thesis should be conducted on the basis of (1) the mapping of theses, research grants and contracts, (2) the database on the community needs in education for all levels, and (3) the database on journals and other academic writings. The plan should be divided into annual plan for short terms and each five years for long terms, so that theses as well as research grants are more relevant to the community needs.
  1. Projecting Net-Working Between Universities
Net-working between universities can be implemented in two versions, one that includes all study programs in universities and another one that concnerns a certain study program. The former can be implemented as projecting Dissertation Information Services shared by a group of universities that contain (1) humanities and social sciences: communications and the arts; education; languange; literature and linguistics; philosophy, religion and theology; social sciences; and (2) the sciences and engineering: biological sciences; earth sciences; health and environmental sciences; physical sciences; and psychological.
The latter, net-working between certain program, let say The Study Program of Mechanical Engineering (SPME) – either educational or noneducational – including University of Indonesia, Institute Technology of Surabaya, State University of Malang, and other universities which have the same study program.
  1. Designing Interactive CD
Being aware of the effectiveness on using interactive CD for improving theses quality, especially for young researchers, designing interactive CD is a valuable project. Therefore, I would like to show you an example of The Study Program of Arabic Education (SPAE)’s interactive CD. It contains (a) the objectives of using CD, (b) a guide in writing both of quantitative and qualitative proposal, (c) planning proposal in tight time, (d) database on theses, research grants, articles, and journals, (e) sites related to Arabic education and other languages education.

BIBLIOGRAPHY

Bonaventura. 2005. Pelajaran dari Austalia, Singapura dan China: Universitas (Bertaraf) Internasional, Seperti Apa?. Jawa Pos August 2,2005.
European Leage. 1985. University Microfilms International (UMI) Dissertation Information Service. New York: NY Press.
Murtadho, Nurul. 2001. “Peningkatan Kualitas Penelitian dalam Bidang Sastra, Sastra dan Budaya Arab” dalam AL-HADHARAH: Bahasa, Sastra dan Budaya Arab, Jurnal Ikatan Pengajar Bahasa Arab di Indonesia Th. 1, No. 2, Agustus 2001.
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1999. Buletin Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta: UI Press.
The Study Program of Arabic Education (SPAE). 2002. Development for Undergraduate Education (DUE)-like. Malang: University of Malang.
University of Glasgow, 1995. Profile of a University. Scotland UK: Linneys ESL.

METAPHORICAL MEANINGS OF “LIGHT” IN BOTH QURANIC VERSES AND THE RISALE-I NUR

METAPHORICAL MEANINGS
OF “LIGHT” IN BOTH QURANIC VERSES AND THE RISALE-I NUR

Abstract Light is the manifestation of morality and of the intellect. The light metaphors are frequently used in religion books, among which are the Qur’an and the Risale-i Nur by Bediduzzaman Said Nursi, one of the most prominent among Moslems in the last decades. This article aims at describing methaporical meanings of the light in both Quranic verses and the Risale-i Nur. By analyzing metaphorical meanings, I conclude that there are similarities in the interpretations of “light” in the both references.
ملخص النور مظهر الأخلاق والعقل. واستُعملت استعارات النور كثيرا في الكتب الدينية منها القرآن وكتاب "رسالة النور" لبدئ الزمان سعيد النرسي، أحد البارزين حول المسلمين في عشر السنوات الأخيرة. صوّب هذا البحث وصفا مجازيا عن معاني النور في الآيات القرآنية وكتاب رسالة النور. ووصل الباحث إلى الإستنباط في آخر بحثه عن تحليل المعاني المجازية أنه عُدة التشابه في تفسير النور بين هذين المصدرين.
Keywords: Qur’anic, Metaphors, Risale-i Nur
The term metaphor in the broad sense amounts to a cover term for all figures of speech which can be compared in Arabic with majaz introduced by Abu Ubaidah (d.210 H) in his majaz al-Qur’an[1] but not majaz in the narrower sense as defined by Abdul Qohir al-Jurjani (d. 471) in Asror al-Balaghah[2]. Among methapor is light (nur) which is traditionally equated with the spirit. Ely Star asserts that the superiority of the spirit is immediately recognizable by its luminous intensity. Light is manifestation of morality, of the intellect and the seven virtues. Its whiteness alludes to a synthesis of all. Light of any given colour possesses a symbolism corresponding to that colour, plus the significance of emanation from the ‘Centre’, for light is also the creative force, cosmic energy, and radiation. Symbolically, illumination comes from the East. Psychologically speaking, to become illuminated is to become aware of source of light, and, in consequence of spiritual strength[3].
This article aims at describing metaphorical meanings of the light on both Quranic verses as interpreted by commentators and the Risale-i Nur by analyzing twenty four title and messages of the Risale-i Nur collection. The translation of the meaning of the Qur’an being used in this paper is approved by Supreme Sunni and Shii Councils of the Republic of Lebanon[4]


The Interpretations of The Light Metaphor in the Qur’an
The light metaphors in the Qur’an interpreted by commentators can be classified into six categories. They refer to (1) the Guide of the residents of the heavens and the earth; (2) belief and guidance; (3) Islam; (4) Holy Books: the Torah, the Gospel, Psalter (Zabur), the Qur’an; (5) Prophet Muhammad (PBUH); and (6) the Justice on the Day of Resurrection[5].
  1. The Guide of the residents of the heavens and the earth
There is only one verse which contains the light metaphor interpreted as “the Guide of the Residents of the heavens and the earth” i.e. Light (an-nur) 24:35
Allah is the light of the heavens and the earth. His light may be compared to a niche that enshrines a lamp, the lamp within a glass which (looks) as if it were a brilliant star, (It is) lit from a blessed olive tree, neither eastern nor western. Its very oil would almost shine forth, though no fire touched it. Light upon light; Allah guides to His light whom He will. Allah sets forth parables for men. He has knowledge of all things.
At least the are four interpretations of the light metaphor above, i.e. The Guide of the residents of heavens and the earth, the Designer of affairs for the heavens and the earth, the Enlightener of the heavens and the earth (enlightening the heavens with angels and the earth with prophets), the Embellisher of the heavens and the earth: embellishing the heavens with the sun, moon, and stars; and embellishing the earth with prophets, scholars and believers. The first interpretations, the Guide the residents, however, is chosen for two reasons. Firstly, Allah says: “My light is My guidance”[6] and secondly, the verse is preceded by 24:34 as follows:[7]
We have sent down to you revelations showing you the right path, and a story about those who have gone before you and an admonition to righteous men.
Therefore, the remaining, ‘light metaphors’ in the above verse, I think, should be interpreted as “His guidance”.
  1. Belief and Guidance
Beside the above ‘light metaphors’ in 24:35, there are metaphors in thirteen verses[8] which are interpreted as belief and guidance[9]. The verses either cover only light metaphors or dark and light metaphors. The only verse of the former is:
Is he whose heart Allah has opened to Islam, thus receiving light from his Lord, (like him who disbelieve)? But woe to whose those whose heart are hardened against the remembrance of Allah! Truly, they are in the grossest error (39:22).
However, the remaining metaphors, i.e. the twelve verses, cover darkness and light. Among them is the following:
Allah is the Supporter of the faithful. He leads the from darkness to the light. As for the unbelievers, their supporters are false gods, who lead them from light to darkness. They are the heirs of Hell and shall abide in it forever (2:257).
  1. Islam
The phrase “the light of Allah” (nur Allah) in the two verses, i.e. 9:32 and 61:8, are interpreted as Islam[10]. They are:
They desire to extinguish the light of Allah with their mouths; but Allah seeks only to perfect His light, though the infidels abhor it (9:32).
They seeks extinguish the light of Allah with their mouths; but Allah will perfect His light, much as the unbelievers may dislike it (61:8).
  1. Holy Books: the Torah, the Gospel, Psalter (Zabur), the Qur’an
The light metaphors that are interpreted as Holy Books mentioned in twelve verses contain either nur ‘light’ (N) or munir ‘shining’ (Adj)[11]. They are classified into five groups, i.e. (1) two verses deal with the Torah i.e. 5:44 and 6:91; (2) one verse relates to the Gospel, i.e. 5:46; (3) two verses, 22:8, and 31:20, using the indefinite phrase kitab munir ‘a shining Book’ interpreted as revelation without referring to any of the four Holy Books; (4) two other verses, 3:184 and 35:25, with definite phrase al-kitab al- munir ‘a shining Book’ interpreted as the Torah, the Gospel, and Psalter (Zabur), and (5) the Qur’an which is implied in five verses, i.e. 4:174; 7:157; 42:52; 57:28; 64:8. Among them is the following:
Believe then in Allah and His Apostle and in the light which We have revealed. Allah has knowledge of all your actions (64:8).
  1. Prophet Muhammad (PBUH)
There are two verses which contain metaphors interpreted as Prophet Muhammad (PBUH), one containing nur ‘a light’ (N) and the other using sirajam muniran ‘a shining light’ (N+Adj)[12] They are:
People of the Book! Our Apostle has come to reveal to you much of what you have hidden of the Book, and to forgive you much. A light has come to you from Allah and a glorious Book, with which He will guide to the paths of peace those that seek to peace Him; He will lead them by His will from darkness to the light; He will guide them to a straight path (5:15).
Prophet, We have sent you forth as witness, a bearer of good news. And a warner; one who shall call men to Allah by His leave and guide them like a shining light (33:46).

  1. The justice on the day of resurrection
There is only one verse that contains a metaphor using nuri rabbiha ‘the light of its Lord’ which is interpreted as The Justice on the Day of Resurrection[13], i.e. 39:69 as follows:
The earth will shine with the light of its Lord, and the Book will be laid open. The prophets and witnesses shall be brought in and all shall be judged with fairness: none shall be wronged.
Beyond the light metaphors above, it is implied that there is an interrelation among metaphorical verses. Since Allah is the guide of the resident of the heavens and the earth, the verse of the Light (an-Nur) 24:35, I think, is the center of light metaphors can be regarded as the branches. However, because the Qur’an contains belief, guidance, Islam, Holy Books (the Torah, the Gospel, Psalter (Zabur), the Qur’an), Prophet Muhammad (PBUH), and the Justice on the Day of Ressurrection it is the center of the remaining metaphors, for it contains belief, shariah and ethics. Since Muhammad (PBUH) was the person to whom the Qur’an was revealed, he was the key to understand Islam. Therefore, the Qur’an and Hadits are the main source in this monotheistic religion.
The Light Metaphor Implied in the Risale-i Nur Collection. There are twenty four title in the Risale-i Nur collection, i.e. the Words; Letters (1928-1932); the Flashes Collection; the Rays Collection; the Miracles of Muhammad; the Highway of the Practices of the Prophet; the Damascus Sermon; Divine Determining (Fate and Destiny) and Man’s Will in Islam; Resurrection and the Hereafter, the Key to Belief; Nature: Cause or Effect?; Man and the Universe; the Tongues of Reality; Message for the sick; Fruit from the Tree of Light; a Guide for the Youth; the Supreme Sign; the Short Words; the Immorality of Man’s Spirit; Thirty-Three Windows; Sincerity and Brotherhood; Belief and Man; on Ramadan, Thanks, and Frugality; and a Biography of the Author of the Risale-i Nur. These title actually can be traced back into four volumes, namely the Sozler, the words, the Mektubat, Letters, the Lem’alar, the Flasher, and Sualar, tha Rays[14].
By analyzing all of the title and the messages pointed out, the metaphorical meanings can be grouped into five categories, i.e. belief, guidance, Prophet Muhammad (PBUH), prophecy and biography.
  • Belief
There are issues dealing with a belief in Risale-i Nur, which encompass three issues, i.e. fundamental matters of belief, how to study the world to recognize God, and answers to criticism made by disbelievers of certain Qur’anic verses.
  1. Fundamental matters of belief deal with matters such a God’s existence and unity, the manifestation of the Divine Names and attributes in creation, the resurrection of the dead and the hereafter, prophethood, the miraculous aspect of the Qur’an, the angels, the immortality of man’s spirit, Divine Determining (fate or destiny) and man’s will in Islam.
These issues can be found in the Words: Divine Determining (Fate or Destiny) and Man’s Will in Islam; Resurrection and the Hereafter; the Key of Belief; Nature; Cause or Effect?; Fruits from the Tree of Light: the Short Words; the Immortality of Man’s Spirit; Thirty-three Windows; Belief and Man.
  1. How to study the universe in order to recognize God so that the most important goal of it may be understood. The physical universe is shown to bear meanings not limited to itself, but which point beyond itself and relates all beings to their Creator. In this way, all things can only be the manifestation of the Names of the Single, All-Wise Maker and man’s true happiness is only to be found in this belief. Topics such as the need for the renewal of faith, and the degrees and requirements of belief, are also explained in the most lucid and satisfying way.
Moreover, the essence of man’s axistence is discussed. The writer explains how belief in God illuminates both man himself and the world in which he finds himself, how religion and science may be blended and why they may not all the beings in the universe testify to God’s Oneness. As a conclusion, he describes a journey in the mind through the universe made by a traveler anxious to become acquainted with the Owner of this fine guest-house.
These issues can be found in six books, i.e. The Rays Collection especially The Supreme Sign, Letters 1928-1932, Belief and Man, Man and the Universe, The Tongues of Reality and Fruits From the Tree of Light.
  • Answer to criticism made by atheists. In the name of science and philosophy, atheists criticize certain Qur’anic verses. Bediuzzaman answers the attacks and demonstrates the rationality of belief in God and the logical absurdity of their denial, and that man’s happiness and salvation both in this world and the next life only in the belief in God and the knowledge of God. These issues can be found in the World, the Flashes collection, and Letters 1928-1932.
  • Guidance
The issues includes the practices (sunna), guidance for contemporary Muslims; guide for youth; sincerity and brotherhood; on Ramadan, thanks, and frugality; and Message for the Sick. The Sunna of the Prophet Muhammad (PBUH) is intended for both individual and social life, and meant to be guidance for contemporary Muslims concerning many issues ranging from nationalism to Sufism. In the face of the vice and the materialism of our times, the writer shows how through learning the true nature of youth, life, and this world, young people may avoid the many pitfalls of modern life and secure true happiness in this world and the next. He sets forth ‘Seven Causes’ for painful situation and offers vital remedies and explains how the brotherhood taught by the Qur’an is the cure for enmity and discord among believers.
He also axplains, from various perspectives, man’s duty of offering thanks to God Almighty. Showing thanks is the most important result of the creation of the world, while frugality is both thanks and showing respect toward the divine mercy manifested in the bounties, and it is cause of plenty. Thanks is also one of the instances of wisdom offer a true cure and consolation both those who are physically sick and those wounded by disbelief and misguidance. Thus through life and constant activities in the universe, the writer demonstrates that man’s true happiness and progress life in the way of the Qur’an and the way of God’s messenger (PBUH).
The above issues can be found in the Flashes collection, Letter 1928-1932, the Highway of the Practices of Prophet, a Guide for Youth, Sincerity and Brotherhood, on Ramadan, Thanks, and Frugality, and Message for the Sick.
  • Prophet Muhammad (PBUH)
There are two types of issue with the Prophet Muhammad (PBUH) in Risale-i Nur classified into two types, i.e. the issues of various aspects of his messengership, and his miracles. Through the various aspects of his messengership, the reader will learn the elevated highway of Muhammadan (PBUH) worship, which is the heart of his message, and will see that as the actualization of the Qur’anic teachings, the Practices are the source of all good morality. He will also learn of the mysteries of Divine love, revealed to that Most Perfect Mirror to the Divine Names, and understand that love of God necessitates following his practices. As well, he will see how the belief in Divine Unity that he taught solves many questions for man, such as transcience and death, and many other questions. Having established his messengership, the writer also demonstrates that Muhammad (PBUH) was the most brilliant and conclusive proof of Divine Unity and eternal happiness.
The issues of miracles describes more than three hundred of the miracles of Muhammad (Peace and blessings be upon him) – miracles related to each of the realms of creation – from water, rocks, trees, animals and human beings, to the moon, the sun, and the stars – thus proving Prophethood of Muhammad and that he was the envoy or Messenger of the Creator of All Things.
These issues can be found in the three books, i.e. Letters 1928-1932, the miracles of Muhammad, and the Highway of the Practices of Prophet.
  • Prophecy
The issues is about the sermon delivered by Bediuzzaman Said Nursi in the Ummayyad Mosque in Damascus in 1911. He predicted that despite the relative backwardness of the Islamic world at that time, Islam and the Qur’an would dominate the future. Mankind, which has been awakened this age, would enter Islam in a large number, for it is only Islam that provides both material, moral and spiritual progress, the basis of true civilization. Describing ‘diseases’ which had prevented the development of Muslims in the past, the sermon comprises six ‘Words’ which constitute the cures of these social sicknesses, and thus continue to be of the greatest relevance for the Muslims today. This issue can be found in a single book, i.e. The Damascus Sermon.
  • A Biography of The Author
The biography of Bediuzzaman Said Nursi describes his life, works, and his struggles in the cause of Islam. He is one of the most important thinkers and servants of the Qur’an to emerge in the Islamic world in the 20th century. It deals with outlines of historical contexts: (a) the enterprise and scholarly endeavours of Bediuzzaman youth in the cause of the Ottoman Empire, particularly in the areas of education, constitutionalism, and Islamic unity, (b) traces both the silent struggle of Bediuzzaman through his collection of written work, the Qur’anic commentary known as the Risale-i Nur, against the irreligious of the time, and the growth of the Risale-i Nur movement.
The biography can be found in two books, i.e. Letters (1928-1932) and more specifically, A Biography of the Author of the Risale-i Nur (1992).
  • Conclusion
Analyzing the poetic qualities of the Risale-i Nur and Said Nursi’s comments on poetry, Kalkisim concludes that Bediuzzaman Said Nursi has a number of realistic qualities in his approach to art and poetry.3 In other words, it is completely natural that the close relation between poetry and inspiration is reflected in the Risale-i Nur collection. Therefore, there must be metaphorical meanings beyond the Risale-i Nur as described above. Quranic verses, as acknowledged by some experts, have high quality of literary values. Murtadho1 described three kinds of metaphors, a statement with one meaning, a statement with various meanings, and various statements with the same meaning. Light metaphors in the Qur’an are of the second, a statement with various meanings.
The complete ways for human life as intended by Islam, according to Sayyid Qutbh,18 is contained in Sura Al- ‘Asr (time), i.e. (1) belief, (2) doing good works, and (3) exhorting one another to truth and patience.18 therefore, belief and guidance are light, for they enlighten human life. According to an authentic Hadits, one of forty constituents of prophethood is manifested in the form of true dreams during sleep.19 Prophecy, I think, can be compared with true dreams during sleep; the prophecy that Islam and the Qur’an would dominate the future, for it provides both material, and moral and spiritual progress, as the basis of true civilization. In other words, prophecy is light, for it can see the future as stated in Sura Fussilat (Relevations well expounded) 41:53 below:
We will show them Our signs in all the regions of the earth and in their own souls, until they clearly see this is the truth. Does it not suffice that your Lord is watching over all things?
Light is also the creative force, cosmic energy, and radiation. Psychologically speaking, to become illuminated is to become aware of a source of light, and, in consequence, of spiritual strength. Therefore, it goes without saying that Prophet Muhammad (PBUH) is light and his ummah, including Bediuzzaman Said Nursi, is light, for he is one of the most important thinkers and servants of the Qur’an to emerge in the Islamic world in the 20th century
BIBLIOGRAPHY

Al- As’ad, Abdul Karim Muhammad, Ahadits fi Tarikh al- balaghah wa fi bad’I qadayaha. Riyadh: Dar el- Ulum, 1985.
Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari, Al-Jami’ li ahkami al-Qur’an, Beirut: Dar Ihyai at-Turats al-Arabi, 1966. Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari, Al-Jami’ li ahkami al-Qur’an, Beirut: Dar Ihyai at-Turats al-Arabi, 1966.
Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf ‘an haqaiq al-tanzil wa ‘uyuni al-aqawil fi wujuhi al-ta’wil, Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Syafi’i. Tafsir al-Baghawi al-Musamma Ma’alim al-Tanzil, III, Beirut Libanon: Daru Al-Ma’arifah, 1986.
Al-Sabuniy, Muhammad Ali, Shofwah al-tafa:sir tafsi:r li al-Qur’an al-Karim ja:mi’ baina al-ma’su:r wa al-ma’qu:l, Beirut: Dar al-fikr, 1980. Al-Sabuniy, Muhammad Ali, Shofwah al-tafa:sir tafsi:r li al-Qur’an al-Karim ja:mi’ baina al-ma’su:r wa al-ma’qu:l, Beirut: Dar al-fikr, 1980.
Al-Tabrani, Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir, Jami’u al-bayan fi tafsiri al-Qur’an, Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1980.
Badaruddin, Fadzinaim, EEpistemologu in the Works of Bediuzzaman Said Nursi, a paper presented in Modern Islamic Thought: The Contribution of Bediuzzaman Said Nursi, held in IAIN Yogyakarta – Indonesia, August 11-12, 2001.
Cirlot, J.E. A Dictionary of Symbols, Second Edition, New York: Philosophical Lybrary, 1971.
Hassan, Tamam, Al-usul: Dirasah epistimulujiyyah lil-fikri al-lughawi ‘inda al-‘arab, nahwu-fiqhu lughah-balaghah, Egypt: Al- Haiah al- Misriyyah al- ‘Ammah li al- Kitab, 1982.
Kalkisim, Muhsin, the poetic of the Risale-i Nur. A paper presented at the Third International Symposium on Bediduzzaman Said Nursi 1995. Kalkisim, Muhsin, the poetic of the Risale-i Nur. A paper presented at the Third International Symposium on Bediduzzaman Said Nursi 1995.
Recited by Anas bin Malik (al-Baghawi III, 345, al-Qurthubi XXII, 256; al-thabari XVIII, 105).
Sayyid Qutbh, Fi Dzilal al-Qur’an, Book 6, Beirut: Dar El-Syuruq, 1994.



Zayid, Mahmud Y. The Qur’an: An English Translation of the Meaning of the Qur’an, Assisted by committee of Muslim Scholar approved by the Supreme Sunni and Shii Councils of the Republic of Lebanon, First Edition, Beirut: Dar Al-Choura, 1980.
1 Mahakemat 77-8.
2 State University of Malang Indonesia.
3 Kalkisim, Muhsin, the poetic of the Risale-i Nur. A paper presented at the Third International Symposium on Bediduzzaman Said Nursi 1995.
[1]Hassan, Tamam, Al-usul: Dirasah epistimulujiyyah lil-fikri al-lughawi ‘inda al-‘arab, nahwu-fiqhu lughah-balaghah, Egypt: Al- Haiah al- Misriyyah al- ‘Ammah li al- Kitab, 1982: 362.
[2] Al- as’ad, Abdul Karim Muhammad, Ahadits fi Tarikh al- balaghah wa fi bad’I qadayaha. Riyadh: Dar el- Ulum, 1985: 42.
[3] Cirlot, J.E. A Dictionary of Symbols, Second Edition, New York: Philosophical Lybrary, 1971: 187-8.
[4] Zayid, Mahmud Y. The Qur’an: An English Translation of the Meaning of the Qur’an, Assisted by committee of Muslim Scholar approved by the Supreme Sunni and Shii Councils of the Republic of Lebanon, First Edition, Beirut: Dar Al-Choura, 1980.
[5] (1) Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Syafi’i. Tafsir al-Baghawi al-Musamma Ma’alim al-Tanzil, III, Beirut Libanon: Daru Al-Ma’arifah, 1986.
(2) Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari, Al-Jami’ li ahkami al-Qur’an, Beirut: Dar Ihyai at-Turats al-Arabi, 1966.
(3) Al-Tabrani, Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir, Jami’u al-bayan fi tafsiri al-Qur’an, Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1980.
(4) Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf ‘an haqaiq al-tanzil wa ‘uyuni al-aqawil fi wujuhi al-ta’wil, Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
(5) Al-Sabuniy, Muhammad Ali, Shofwah al-tafa:sir tafsi:r li al-Qur’an al-Karim ja:mi’ baina al-ma’su:r wa al-ma’qu:l, Beirut: Dar al-fikr, 1980.
[6] Recited by Anas bin Malik (al-Baghawi III, 345, al-Qurthubi XXII, 256; al-thabari XVIII, 105).
[7] Al- Thabari XVIII, 105.
[8] 2:17; 2:257; 5:16; 6:122; 13:16; 14:1; 14:5; 24:40; 33:43; 35:20; 39:22; 57:9; 65:11.
[9] Al-Baghawi, I:24; II:22 & 128; III:25, 26 & 534; al-Zamakhsyari --, I:387 & 601; II:48 & 365; III:265-266; IV:62 & 123.
[10] Al-Sabuni, I:232 and III:372; al-Baghawi, II:286; al-Zamakhsyari IV:99
[11] Al-Zamakhsyari III:6; al-Sabuni II:282; al-Baghawi I:353 and 380; II:206; IV:132; 302; al-Sabuni I:249; 322; 476 and II:573; III:393.
[12] Al-Sabuni, I:334; II:530; Al-Baghawi, II:22; III:535; al-Zamakhsyari I:601; III:432.
[13] Al-Baghawi, VI:88; al-Zamakhsyari, III:401.
[14] Badaruddin, Fadzinaim, EEpistemologu in the Works of Bediuzzaman Said Nursi, a paper presented in Modern Islamic Thought: The Contribution of Bediuzzaman Said Nursi, held in IAIN Yogyakarta – Indonesia, August 11-12, 2001.
18 Sayyid Qutbh, Fi Dzilal al-Qur’an, Book 6, Beirut: Dar El-Syuruq, 1994:3964-71.
19 Badaruddin, Faudzinaim, August 11-12, 2001.